Ada satu hal yang akhir-akhir ini sering aku pelajari: cara mengatasi amarah tanpa harus menyakiti diri sendiri atau orang lain.
Aku bukan orang yang selalu bisa tenang. Kadang hal kecil saja bisa memicu emosi. Entah karena lelah, overthinking, atau ekspektasi yang tidak berjalan sesuai rencana. Dulu, reaksiku biasanya dua: meledak… atau diam tapi menyimpan semuanya.

Dan jujur, dua-duanya sama-sama melelahkan.
Sampai akhirnya aku mulai sadar, amarah itu bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Tapi sesuatu yang perlu dipahami.
Sekarang, ketika aku mulai merasa marah, aku mencoba melakukan satu hal sederhana: berhenti sejenak. Tidak langsung membalas, tidak langsung bereaksi. Aku kasih ruang untuk diriku sendiri, walau cuma beberapa detik.
Kadang aku tarik napas dalam-dalam. Kadang aku memilih diam dulu. Karena aku tahu, kata-kata yang keluar saat emosi sering bukan yang sebenarnya ingin aku sampaikan.
Aku juga mulai belajar bertanya ke diri sendiri:
“Aku marah karena apa, ya?”
Seringkali jawabannya bukan karena orang lain, tapi karena aku lagi capek, atau ada perasaan yang belum selesai di dalam diri.
Menulis jadi salah satu cara terbaik buatku untuk mengatasi amarah. Aku tuangkan semua yang aku rasakan tanpa filter. Anehnya, setelah ditulis, rasanya jauh lebih lega. Seolah-olah emosinya keluar tanpa harus melukai siapa pun.
Pelan-pelan aku mengerti, cara mengelola emosi itu bukan tentang menjadi selalu sabar. Tapi tentang memberi jeda, memahami diri, dan memilih respon yang lebih baik.
Aku masih belajar sampai sekarang. Masih kadang terpancing. Tapi setidaknya, aku sudah tidak sekeras dulu pada diriku sendiri.
Dan mungkin, itu juga bagian dari proses menjadi lebih dewasa.
